Ngobrolin musik sambil bahas golf? Sounds like a perfect combo. Kali ini kita kenalan lebih dekat sama dua personel dari ADA Band yang lagi punya “kehidupan kedua” di luar panggung yaitu di lapangan golf. Bukan cuma soal nada dan lirik, tapi juga swing, putting, dan mental game. Mereka adalah Indra Perdana Sinaga alias NAGA (vokalis) dan Raden Suriandika Satjadibrata alias DIKA (bassist).
Buat lo yang besar bareng lagu-lagu ADA Band, nama mereka jelas bukan pemain baru. Dari lagu galau sampai cinta-cintaan, karya mereka udah jadi soundtrack hidup banyak orang. Tapi sekarang, mereka lagi nulis cerita baru dari panggung musik ke fairway.
Naga termasuk “angkatan golf pandemi”. Dia mulai main sekitar tahun 2020, di era COVID-19, saat hampir semua aktivitas dibatasi. Waktu itu, golf jadi salah satu olahraga yang masih bisa dilakukan karena konsep social distancing-nya. Awalnya cuma iseng driving, belum dapet feel-nya. Sempat berhenti juga. Tapi ternyata, cerita belum selesai. Pertengahan 2024, dia balik lagi ke driving range karena diajak Dika, dan sejak itu keterusan sampai sekarang.
Kalau Naga menemukan golf dari momen “terpaksa jadi hobi”, Dika justru baru mulai di tahun 2024. Tapi ceritanya nggak kalah seru. Mereka berdua ternyata dikenalin ke golf oleh orang yang sama—teman mereka bernama Deddy Syah. Versi Dika lebih simpel dan relatable: dikasih stik golf dulu, baru deh “dipaksa” nyoba. Dari situ malah jadi ketagihan.
Ngomongin soal skill, langsung muncul pertanyaan klasik: siapa yang paling jago? Dengan pede, Naga langsung ngegas, “Ya jagoan saya lah. Golf itu butuh bakat, hitungan, dan komitmen latihan. Pak Dika sibuk, saya punya waktu lebih.” Straightforward dan kompetitif, khas golfer baru yang lagi semangat-semangatnya.
Pengalaman mereka juga nggak main-main. Mereka pernah ngerasain main golf sampai ke luar negeri, tepatnya di Kunming, China. Buat mereka, itu jadi pengalaman pertama golf di luar negeri yang super berkesan mulai dari perjalanan sampai suasana lapangannya.
Kalau di dalam negeri, salah satu favorit mereka adalah Rainbow Hills Golf Club. Buat mereka yang masih tergolong pemula, lapangan ini punya kombinasi yang pas: challenging tapi tetap fun, plus view yang enak buat refreshing. Jadi bukan cuma latihan skill, tapi juga sekalian healing.
Menariknya, mereka juga ngerasa ada benang merah antara musik dan golf. Kata Dika, “Kurang lebih sama. Belajar teknik dulu, latihan, habis itu baru feel.” Dan contoh paling relate? Mereka nyambungin ke lagu mereka sendiri, Manusia Bodoh. Dalam golf, momen “manusia bodoh” itu adalah saat lo niat mukul 100 meter, tapi bola cuma jalan 20 meter atau bahkan, kata Naga, “30 cm juga ada.” Realita yang menyakitkan tapi jujur.
Golf buat mereka bukan cuma santai-santai. Ada tensi yang real. Dari tee off pertama sampai hole terakhir, selalu ada pressure. Apalagi kalau di belakang udah antri flight lain auto deg-degan. Ditambah lagi, golf itu sebenarnya lawan diri sendiri. Lihat teman main bagus aja bisa bikin mental goyang kalau nggak kuat.
Terakhir, kita lempar pertanyaan random tapi seru: kalau mereka bikin turnamen golf bareng fans, hadiah hole-in-one-nya apa? Jawabannya? Nggak jauh dari dunia mereka: studio rekaman senilai 10 miliar rupiah. Karena ya… musisi tetaplah musisi.
Fenomena ini juga nunjukin kalau golf sekarang udah naik level. Nggak lagi identik sama olahraga “orang tua”, tapi mulai jadi bagian dari lifestyle anak muda tempat networking, healing, sampai bikin konten.
Kehadiran Naga dan Dika di dunia golf jadi bukti kalau passion itu nggak harus satu jalur. Lo bisa tetap jadi musisi, sambil serius ngejar hobi lain. Dan siapa tahu, justru dari lapangan golf, inspirasi lagu berikutnya lahir.