Padel sering dikenal sebagai olahraga yang fun, santai, dan penuh tawa. Tapi jangan salah—di balik vibe seru itu, jalur prestasi di cabang olahraga yang booming dalam dua tahun terakhir ini terbuka lebar. Kunci utamanya? Proses, konsistensi, dan tentu saja peran pelatih yang tepat.
Kali ini, kami mengajak kamu kenalan lebih dekat dengan dua pelatih padel bersertifikat yang menjadi bagian penting dari ekosistem KULA Padel Alam Sutera, Tangerang. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tapi punya visi yang sama: membangun padel Indonesia jadi lebih kompetitif.
Andrew: Dari Catalonia ke Tangerang, Demi Padel
Namanya Andrew, usia baru 24 tahun, lahir di Catalonia, Spanyol—salah satu “rumah” besar padel dunia. Fakta bahwa ia kini mengajar di Tangerang jelas bukan cerita biasa. Andrew adalah tipe pelatih yang rela menempuh perjalanan jauh dari kampung halamannya demi membagikan ilmunya.
Awalnya, Andrew bertemu dengan Chifumi sato , salah satu pelatih KULA Padel asal Jepang, saat mereka sama-sama menimba ilmu di akademi padel di Spanyol. Dari diskusi panjang tentang pesatnya perkembangan padel di Indonesia, muncul satu keputusan besar: pindah ke Indonesia.
Sebelum jadi full-time coach, Andrew sempat bekerja kantoran. Tapi kecintaannya pada padel membuat ia meninggalkan zona nyaman dan menjadikan olahraga ini sebagai profesi utama.
Selama tiga bulan melatih di Indonesia, Andrew melihat satu hal yang menonjol dari murid-muridnya: mental yang ramah, terbuka, dan mau belajar. Meski kebanyakan datang dengan basic tenis atau bulu tangkis, itu justru jadi modal besar. Menurutnya, kunci adaptasi ada pada penggunaan pergelangan tangan dan kontrol kekuatan pukulan.
“Footwork dari tenis dan bulu tangkis itu sudah sangat membantu. Tinggal menjaga ritme permainan dan membiasakan teknik pukulan khas padel,” ujarnya.
Andrew optimistis masa depan padel Indonesia cerah. Dengan jumlah SDM yang besar dan antusiasme yang terus tumbuh, ia yakin beberapa tahun ke depan akan muncul atlet-atlet padel berkualitas.
Ada juga cerita lucu dari sesi latihan. Pernah suatu kali, karena salah paham bahasa, muridnya malah memukul bola sekuat tenaga saat Andrew meminta fokus ke teknik—dan yes, bolanya kena langsung ke dirinya. Sakit? Pasti. Tapi Andrew hanya tertawa dan menjadikannya momen untuk mengajarkan sportivitas.
Buat Andrew, KULA Padel adalah environment ideal. Lokasinya yang tidak terlalu dekat hiruk-pikuk Jakarta, kualitas lapangan yang terawat (tidak lembap dan licin), plus fasilitas pendukung seperti restoran, membuat KULA nyaman untuk latihan serius maupun fun.

Fabian: Pelatih Lokal yang Tumbuh Bersama KULA
Kalau Andrew datang dari Eropa, maka Fabian adalah Indonesia Pride. Ia sudah mengajar sejak hari pertama KULA Padel beroperasi dan menjadi saksi langsung perkembangan para pemain dari nol hingga level kompetitif.
Fabian menangani berbagai tipe murid—dari pemula sampai yang mengarah ke profesional. Untuk pemula, fokusnya sederhana tapi krusial: menguasai teknik dasar pukulan, lalu perlahan dikenalkan dengan game plan. Sementara untuk pemain yang sudah serius, Fabian lebih menekankan detail teknik, strategi permainan, dan pentingnya latihan fisik di luar jam court.
Soal prestasi, pandangan Fabian sejalan dengan Andrew. Padel Indonesia masih punya ruang yang sangat luas untuk berkembang. Bedanya dengan atlet luar negeri adalah jam terbang—di luar sana, banyak atlet sudah mulai main padel sejak usia 6–7 tahun. Sementara di Indonesia, mayoritas atlet saat ini datang dari background tenis atau bulu tangkis.
Namun justru di situlah peluangnya. Dengan padel yang makin booming, Fabian yakin akan muncul generasi baru yang benar-benar “lahir” dari padel dan punya potensi besar untuk jadi juara di masa depan.

Masa Depan Padel Dimulai dari Lapangan
Dari Andrew hingga Fabian, satu benang merah yang jelas: padel Indonesia sedang berada di fase emas untuk bertumbuh. Dengan pelatih yang tepat, environment yang mendukung seperti KULA Padel, dan semangat belajar yang tinggi dari para pemain, bukan tidak mungkin Indonesia akan segera punya nama besar di kancah padel internasional.
Padel bukan cuma soal fun—tapi juga tentang mimpi, proses, dan masa depan.