Penantian panjang akhirnya pecah. Pada 5 April 2026, Jonathan Wijono—atau yang akrab dipanggil Jowi resmi ngeraih gelar internasional pertamanya di Singha Chiang Mai Open 2026 yang digelar di Mae Jo Golf Resort & Spa, Thailand. Dan ini bukan kemenangan yang santai-santai. Ini drama full tension sampai playoff.
Sempat Leading… Tapi Hampir Kehilangan
Jowi tampil gila di awal. Setelah 3 ronde (54 hole), dia udah duduk nyaman di puncak leaderboard dengan skor 13-under. Bahkan sempat unggul 2 pukulan dari rival terdekatnya, Amarin Kraivixien.
Tapi… ronde terakhir nggak semulus itu. Game-nya sempat drop. Feel hilang. Pukulan nggak connect seperti sebelumnya. Hasilnya? Skor even par (70), dengan 4 birdie tapi juga 4 bogey. Sementara Amarin justru ngegas dan berhasil nyamain skor total.
Akhirnya? Playoff.

Jonathan Wijono sang juara Singha Chiang Mai Open 2026 / Credit pic : All Thailand Golf Tour
Playoff Mode: “Nothing to Lose”
Masuk playoff, vibe-nya beda. Jowi sendiri bilang kalau dia justru lebih pede di situasi kayak gini. Buat dia, playoff itu lebih terasa kayak matchplay lebih simple: menang atau pulang. Mentalitasnya? Simple tapi powerful: nothing to lose. Dua hole pertama? Sama-sama bogey. Masih imbang.
Masuk hole tambahan ketiga ini dia momen penentuan.
The Winning Moment
Hole penentuan ini tricky banget: par 4 sempit dengan dogleg kiri, kanan langsung OB. Pressure? Gila.
Keduanya melakukan drive yang solid. Tapi di pukulan kedua, Jowi berhasil naruh bola lebih dekat ke hole dibanding Amarin. Amarin gagal memanfaatkan peluang putt. Dan di sinilah semuanya berubah. Jowi dengan tenang nge-sink putt pertamanya birdie.
Game over.
Trofi pertama di level internasional akhirnya jadi miliknya.

Jonathan Wijono Credit pic : All Thailand Golf Tour
Bukan Sekadar Menang
Buat Jowi, ini bukan cuma soal hadiah uang (sekitar Rp235 juta). Ini soal mimpi yang akhirnya kejadian setelah 5 tahun jadi pro sejak 2021.
Selama ini dia udah collect 6 gelar di level nasional, tapi internasional? Selalu “hampir”.
Dan kemenangan ini jadi jawaban dari semua “hampir” itu. Fun fact: Dia bahkan masuk turnamen ini lewat jalur kualifikasi. Yes, dari bawah banget.
“Saya ikut turnamen ini karena membutuhkan kompetisi untuk melatih saya, mengingat saat ini tidak ada jadwal pertandingan di mana pun. Jadi, saya mendaftar untuk bermain di babak kualifikasi Senin (30 Maret),” ujar Jowi.
Kenapa Ini Penting Buat Lo yang Masih Ragu Main Golf?
Karena cerita Jowi nunjukin satu hal:
Golf itu bukan olahraga “slow” atau “membosankan”. Ini soal mindset, pressure, dan clutch moment.
Ada strategi, ada mental game, dan ada momen dramatis yang bisa bikin jantung deg-degan—kayak final esports atau adu penalti di bola. Dan yang paling penting Golf sekarang udah makin relatable buat anak muda. Dari kualifikasi sampai jadi juara. Dari hampir menang sampai benar-benar menang. Cerita Jowi ini bukan cuma inspiratif tapi juga bukti kalau golf itu punya cerita yang nggak kalah seru dari olahraga lain.
Jadi… masih mau bilang golf itu boring