Ngobrol Santai Bareng Rayhan Abdul Latief: Cerita dari Denton dan Mengejar Mimpi PGA Tour

Buat banyak anak muda, kuliah di luar negeri aja udah jadi achievement besar. Tapi buat Rayhan Abdul Latief, tantangannya naik level. Bukan cuma harus survive sebagai mahasiswa di Amerika, tapi juga harus tampil kompetitif sebagai student athlete golf di tengah kerasnya atmosfer golf kampus di Negeri Paman Sam.

Saat lagi pulang dan menikmati liburan di Indonesia, Rayhan sempat sharing cerita dan pengalaman serunya bareng team BOmagz.com. Mulai dari culture shock, latihan super padat, sampai mimpi besarnya buat someday main di PGA Tour. Menurut Rayhan, salah satu hal yang paling bikin dia kaget waktu pertama kali masuk dunia golf kampus di Amerika adalah tingkat kompetitif para pemainnya. Bahkan dalam satu team sendiri, vibes kompetisinya kerasa banget. Semua orang pengen jadi yang terbaik.

Tapi menariknya, kompetitif di sana tetap dibungkus dengan profesionalisme yang keren. Jadi walaupun di lapangan saling sikut buat perform maksimal, begitu selesai main semuanya balik chill lagi.

“Di lapangan kompetitif banget, tapi nggak dibawa keluar lapangan,” cerita Rayhan.

Bukan cuma soal permainan, Rayhan juga ngerasa mindset latihan di Amerika jauh berbeda dibanding yang biasa dia lihat di Indonesia. Kalau di sini banyak pegolf fokus workout untuk otot tertentu yang berhubungan langsung sama golf, di Amerika pendekatannya jauh lebih holistic. Gym jadi bagian penting buat overall performance. Nggak cuma biar swing makin kenceng, tapi juga buat stamina, mobility, balance, sampai daya tahan tubuh selama musim kompetisi yang panjang. Dan buat Rayhan, itu jadi salah satu hal yang membuka pikirannya tentang pentingnya fitness buat pegolf modern.

Turnament terakhir Rayhan sebelum berangkat kuliah ke Danton, Texas US Credit pic @golfdalamkamera

Yang ternyata paling challenging buat Rayhan justru bukan cuaca atau makanan, tapi adaptasi sosial. Mulai dari culture, cara komunikasi, sampai kebiasaan sehari-hari yang cukup berbeda dari Indonesia. Untungnya, lingkungan di sekitar Rayhan ternyata sangat suportif. Teman-teman dan orang-orang di kampus banyak membantu dia buat tetap nyaman dan menjaga mental selama jauh dari Indonesia.

Lucunya, Rayhan juga ngaku nggak terlalu ngalamin homesick. Alasannya cukup wholesome — karena keluarganya tinggal nggak terlalu jauh dari kampus. Dari dormitory di Denton ke rumah kerabatnya dimana Mamanya tinggal di Dallas cuma sekitar satu jam perjalanan. Jadi kalau lagi kangen suasana rumah atau masakan rumahan, tinggal cabut weekend buat recharge energi.

“Paling seminggu sekali main ke rumah saudara,” katanya sambil ketawa.

Jadwal hidup sebagai student athlete ternyata jauh dari kata santai. Rayhan harus membagi waktu antara kelas, latihan, gym, travelling untuk turnamen, sampai recovery. Bahkan di hari-hari tertentu dia harus bangun jam 5 pagi dan baru bisa balik ke kamar sekitar jam 9 malam. Kebayang gimana hectic-nya kehidupan student athlete di Amerika yang memang semuanya serba disiplin dan demanding.

Tapi justru dari situ mental Rayhan makin kebentuk. Dia merasa lingkungan yang kompetitif bikin dirinya berkembang lebih cepat dan jauh dari rasa minder. Ada juga beberapa perbedaan unik yang Rayhan rasakan saat menjalani college tournament di Amerika dibanding kompetisi di Indonesia. Salah satunya adalah peran coach saat turnamen berlangsung.

Kalau di kompetisi college golf Amerika, coach diperbolehkan memberikan advice langsung kepada player selama pertandingan berjalan. Hal seperti ini menurut Rayhan cukup berbeda dengan yang biasa dia alami di Indonesia.

Selain itu, faktor fisik pemain, fasilitas, sports science, sampai environment kompetitif di sana juga menurutnya jauh lebih maju. Tapi bukannya bikin takut, justru itu yang memotivasi Rayhan buat terus berkembang.

Dan kalau ngomong soal inspirasi, nama Scottie Scheffler langsung keluar jadi sosok idolanya. Buat Rayhan, Scottie adalah contoh pegolf yang punya style berbeda, berani jadi diri sendiri, tapi tetap humble walaupun ada di level tertinggi dunia golf.

Ngomongin mimpi, Rayhan juga nggak tanggung-tanggung. Targetnya jelas: suatu hari bisa bermain di PGA Tour. Menurut dia, PGA Tour adalah tempat semua pegolf terbaik dunia bertarung di level paling kompetitif. Bahkan lebih dari itu, Rayhan punya satu mimpi yang menurutnya wajib tercapai minimal sekali seumur hidup memenangkan satu turnamen Major.

Di akhir obrolan, Rayhan juga kasih pesan yang cukup relate buat banyak pegolf amateur di Indonesia. Menurut dia, gym, workout, dan fitness itu bukan sekadar pelengkap buat golfer modern. Justru fondasi fisik adalah salah satu faktor paling penting yang menentukan performa di lapangan.

“Jangan pernah anggap remeh gym dan fitness. Itu basic yang menopang cara kita bermain golf,” tutup Rayhan.

Dan dari cerita Rayhan ini keliatan banget kalau perjalanan jadi atlet bukan cuma soal skill, tapi juga soal adaptasi, disiplin, mindset, dan keberanian buat keluar dari comfort zone. Dari Denton sampai mimpi PGA Tour, perjalanan Rayhan Abdul Latief masih panjang dan jelas baru mulai.

Dan untuk full interview bisa ditonton di kanal youtube Bomagz.

error: Content is protected !!