Kalau banyak orang mulai golf karena ikut tren, cerita Dina Sean Wahyudi justru berawal jauh sebelum golf jadi olahraga yang ramai dimainkan perempuan seperti sekarang. Sudah sekitar 25 tahun mengenal golf, Dina mengaku dulu jumlah pegolf wanita masih sangat sedikit sehingga ia belum terlalu sering turun ke lapangan. Semua berubah setelah masa pandemi, ketika semakin banyak perempuan mulai tertarik bermain golf. Apalagi sang suami juga mengelola lapangan golf, membuat dunia golf terasa semakin dekat. Menariknya, perjalanan Dina kembali aktif bermain golf justru berawal dari hobi bersepeda Brompton di Rainbow Hills.
Setelah sesi gowes, banyak teman-temannya mulai mencoba latihan driving, dan dari situlah Dina ikut terjun lebih serius. Ia bahkan membentuk komunitas sendiri dan semakin rajin bermain karena lingkungannya dipenuhi teman-teman yang punya hobi yang sama. Satu hal yang pasti, Dina Sean bukan tipe orang yang takut panas. Buatnya, selama bisa seru-seruan di lapangan, bertemu teman-teman, dan menikmati permainan, cuaca bukan alasan untuk tidak golf.
Golf Ternyata Lebih Dari Sekadar Olahraga
Bagi Dina, golf bukan cuma soal mengejar par atau birdie. Yang membuatnya bertahan justru manfaat yang datang di luar permainan itu sendiri. Pertama tentu kesehatan. Bermain golf membuat tubuh tetap aktif bergerak sambil menikmati aktivitas outdoor.
Kedua adalah relasi. Menurut Dina, lapangan golf sering kali menjadi tempat bertemunya berbagai profesi, latar belakang, dan peluang baru.
“Di golf kita bisa ketemu teman baru, networking, ngobrol bisnis, sampai membangun koneksi yang mungkin nggak ketemu di tempat lain.”
Buat banyak orang, golf memang menjadi kombinasi unik antara olahraga, refreshing, dan networking dalam satu paket.
Dari Komunitas Sepeda ke Komunitas Golf Perempuan
Kecintaan Dina terhadap aktivitas outdoor ternyata tidak berhenti di golf. Saat masa pandemi, ketika banyak lapangan golf sempat tutup, ia bersama teman-temannya membentuk komunitas sepeda bernama Beautiful Biker Community (BBC). Awalnya mereka hanya berkeliling santai dengan sepeda Brompton bersama sesama perempuan.
Namun seiring waktu, banyak anggota yang mulai tertarik mencoba golf. Dari situlah lahir BBGC, komunitas yang kini dikenal sebagai wadah para perempuan pecinta golf. Yang menarik, pertumbuhan komunitas ini berlangsung sangat cepat.
Berawal dari sekitar 40 orang, berkembang menjadi 80 anggota, lalu 150 anggota, hingga kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 200 member. Mayoritas anggotanya adalah perempuan yang ingin belajar dan menikmati golf dalam suasana santai dan suportif. “Awalnya banyak yang cuma penasaran. Lama-lama mereka ikut latihan, terus akhirnya jatuh cinta sama golf.”
Meski fokus pada perempuan, berbagai kegiatan BBGC tetap terbuka untuk pasangan maupun keluarga ketika mengadakan event tertentu.
Ulang Tahun yang Nggak Biasa
Tidak heran ketika merayakan ulang tahunnya tahun ini, Dina memilih konsep yang sangat dekat dengan kehidupannya saat ini: golf party. Keputusan itu muncul secara natural. Sebagian besar teman yang kini berada di lingkaran pergaulannya adalah sesama golfer.
“Hari-hari ketemunya juga sama teman-teman golf.”
Buat Dina, merayakan momen spesial sambil bermain golf terasa jauh lebih personal dibanding pesta biasa. Selain bisa berkumpul dengan teman-teman, semua orang juga bisa menikmati aktivitas yang sama-sama mereka cintai.
Misi Besarnya: Bikin Lebih Banyak Perempuan Berani Coba Golf
Di balik kesibukannya bermain golf dan mengelola komunitas, Dina punya satu tujuan sederhana. Ia ingin semakin banyak perempuan berani mencoba olahraga yang selama ini sering dianggap eksklusif atau sulit dijangkau. Karena jika melihat kisahnya sendiri, Dina adalah bukti bahwa ketika ia sempat lupa dengan kesenangan bermain golf, bila dilakukan bersama teman-teman, maka akan menemukan keseruan lain bermain golf, hingga ia berubah menjadi sosok yang aktif menginspirasi ratusan perempuan lainnya untuk ikut turun ke fairway. Dan semuanya berawal dari satu hal yang sangat sederhana: “Bersama teman-teman hidup sehat lebih asik”.