Ada yang kenal Dita Fakhrana dari layar kaca, ada juga yang mulai notice sosoknya di lapangan golf. Presenter yang satu ini ternyata bukan golfer dadakan yang baru pegang stik gara-gara tren golf lagi naik daun. Dita sudah kenal golf sejak 2016–2017, jauh sebelum olahraga ini makin ramai jadi lifestyle anak muda.
Dita Fakhrana Utami, perempuan kelahiran Bandung, 17 Mei 1994, yang besar di Surabaya ini punya perjalanan karier yang cukup berwarna. Pernah menjadi pramugari, merambah dunia sportscasting, sampai akhirnya malang melintang di televisi. Namanya makin dikenal lewat program Malam-Malam di NET TV bersama Surya Insomnia dan Tora Sudiro.
Tapi di balik kesibukannya di dunia entertainment, ternyata ada sisi lain Dita yang nggak kalah menarik: golf.
Sekarang, Dita makin serius mengasah kemampuannya di lapangan. Bukan sekadar datang buat seru-seruan, foto-foto, atau menikmati clubhouse vibes, ia mulai rutin mengikuti turnamen golf kompetitif, termasuk seri Mid-Amateur yang digelar Amateur Golf Indonesia (AGI) dan Indonesia Development Open.
Buat Dita, golf sekarang bukan cuma soal hobi. It’s getting serious!
Bukan Golfer Kaleng-Kaleng, Sudah Main Sejak 2016
Kalau sekarang banyak orang baru kenal golf setelah pandemi, Dita justru sudah lebih dulu nyemplung ke olahraga ini sejak 2016–2017. Saat itu, aktivitas syutingnya sedang padat-padatnya, dan ia mulai mencari hobi baru buat mengisi waktu di luar pekerjaan.
Akhirnya, seorang sahabat mengenalkannya pada golf. Dari situ, Dita mulai belajar basic swing sampai akhirnya jatuh cinta dengan olahraga yang satu ini.
Menariknya, perjalanan golf Dita nggak dimulai dari coaching profesional. Ia belajar secara otodidak dengan melihat dan meniru permainan sahabatnya yang sudah punya single handicap.
“Teman aku cuma ngajarin basic-nya aja. Selebihnya aku lihat dia main, terus aku copy,” cerita Dita.
Bisa dibilang, dulu Dita mengandalkan feeling dan observasi. Nggak banyak teori, yang penting turun ke lapangan dan terus belajar.
Bahkan, saat masih sering latihan di driving range Pondok Indah, Dita merasa golfer perempuan seusianya masih jarang banget. Kebanyakan yang ia temui adalah pegolf profesional atau ibu-ibu yang sudah lebih dulu bermain golf.
Situasi itu justru bikin dirinya makin tertantang.
Sekarang kondisinya sudah berbeda. Menurut Dita, jumlah golfer perempuan semakin banyak dan perkembangan ini jadi sesuatu yang menyenangkan. Golf yang dulu terasa didominasi kalangan tertentu, kini makin terbuka buat siapa saja.

Dari Hobi Jadi Kompetisi, Sekarang Bukan Cuma Cari Jarak
Setelah bertahun-tahun bermain golf dengan caranya sendiri, Dita kini mulai masuk ke level yang lebih serius. Ia sudah mengikuti beberapa turnamen Mid-Amateur, termasuk di Sedayu Indo Golf, Pondok Indah Golf Course, hingga Indonesia Development Open dan AGI Cup di Royale Jakarta Golf Club.
Lantas, kenapa harus ikut turnamen kalau bisa main santai bareng teman?
Buat Dita, jawabannya bukan cuma soal menang atau kalah. Turnamen menjadi cara untuk menguji skill sekaligus melatih mental dan kejujuran sebagai golfer.
Menurutnya, bermain golf santai dan bermain dalam kompetisi punya tantangan yang berbeda. Saat fun game, orang mungkin masih tergoda mengambil jalan pintas ketika bola masuk area penalty atau out of bounds. Ada juga kebiasaan mengganti bola di green padahal masih berada dalam hole yang sama.
Di turnamen, hal-hal seperti itu nggak bisa dianggap sepele. Pemain harus memahami aturan dan bertanggung jawab atas setiap pukulan yang dilakukan.
“Keuntungannya benar-benar melatih skill dan mental,” ujar Dita.
Buat Dita, golf bukan sekadar permainan memukul bola sejauh mungkin. Ada aturan, strategi, kesabaran, dan tentu saja integritas yang harus dijaga.
Dari situ juga terlihat perubahan fokus permainannya. Kalau dulu ia merasa dirinya termasuk tipe golfer yang mengandalkan pukulan jauh alias hitter, sekarang targetnya mulai bergeser.
“Aku dulu adalah hitter, dan sekarang yang aku cari adalah konsistensi. Makanya aku pergi ke coach,” ungkapnya.
Yes, distance is fun, but consistency wins. Pukulan jauh memang bikin bangga, tetapi kemampuan menjaga permainan tetap stabil dari hole ke hole adalah tantangan yang berbeda.

Golfer Perempuan? Please, Jangan Minder Duluan!
Salah satu hal yang bikin Dita semangat adalah melihat semakin banyak perempuan mulai serius bermain golf. Buatnya, lapangan golf bukan wilayah eksklusif laki-laki.
Perempuan juga bisa punya permainan yang solid, bersaing secara kompetitif, dan membuktikan kemampuannya lewat performa di lapangan.
Pesan Dita buat perempuan yang masih merasa golf identik dengan cowok cukup simpel: percaya diri dulu.
Ia bahkan bangga ketika kemampuan driving-nya bisa bersaing dengan pegolf laki-laki di level amatir.
Bukan berarti semua pemain harus sibuk membandingkan jarak pukulan, tetapi Dita ingin menunjukkan bahwa perempuan juga punya potensi besar untuk berkembang di olahraga ini.
Jadi, buat yang masih ragu mulai golf karena merasa lapangan didominasi laki-laki, buang jauh-jauh pikiran itu. Belajar, latihan, dan nikmati prosesnya.
No need to feel intimidated. Yang penting, terus improve!

Plot Twist: Ketemu Suami Juga Gara-Gara Golf!
Kalau golf sudah jadi bagian penting dalam hidup Dita, ternyata olahraga ini juga punya peran dalam kisah cintanya.
Yup, Dita bertemu suaminya di lapangan golf!
Ceritanya bermula ketika ia pergi bermain bersama seorang teman perempuan. Dita meminta temannya mengajak siapa saja yang penting suasananya seru. Temannya kemudian mengajak seorang kenalan, yang ternyata membawa teman lainnya, termasuk laki-laki yang sekarang menjadi suami Dita.
Dari pertemuan santai di lapangan itulah cerita mereka dimulai.
Jadi, golf buat Dita bukan cuma soal swing, scorecard, atau mengejar birdie. Olahraga ini juga mempertemukannya dengan orang penting dalam hidupnya.
Kalau kata anak sekarang, ini namanya hobi yang kasih bonus relationship goals!
Pilates, Core Strength, dan Tidur Cukup: Bukan Cuma Modal Tangan
Buat yang mengira golf hanya mengandalkan tangan, Dita punya jawaban yang cukup tegas: salah besar!
Sebagai seseorang yang juga memiliki sertifikasi Pilates, Dita memahami bahwa kondisi fisik punya hubungan erat dengan performa golf. Ia menilai Pilates membantu membangun kekuatan tubuh, terutama core, yang berperan penting dalam menjaga kontrol gerakan dan mendukung swing.
Dalam golf, swing bukan sekadar mengayunkan tangan. Ada koordinasi seluruh tubuh, rotasi, keseimbangan, kekuatan kaki, sampai kemampuan menjaga posisi ketika melakukan pukulan.
Kalau ingin meningkatkan swing speed, tubuh juga harus punya fondasi fisik yang mendukung.
“Golf itu kalau kita nggak punya fisik yang kuat, badan kita bisa kewalahan. Untuk increase swing speed, kalian harus punya fisik yang kuat, apalagi kaki dan core,” jelasnya.
Selain latihan fisik, Dita juga punya tips yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sering disepelekan: tidur yang cukup.
Menurutnya, istirahat sangat penting ketika akan mengikuti turnamen serius. Jangan sampai tubuh sudah kelelahan sebelum pertandingan dimulai karena terlalu memaksakan latihan.
Apalagi buat golfer amatir yang masih punya pekerjaan dan aktivitas lain di luar lapangan. Kita bukan pegolf profesional yang punya jadwal latihan dan tim pendukung setiap hari.
Jadi, kalau besok mau tournament, jangan malah begadang demi nongkrong sampai pagi. Tubuh yang fresh bisa membantu kita tampil lebih maksimal.
Rest is part of the game, guys!

Tasmania Jadi Pengalaman Golf yang Nggak Terlupakan
Saat ditanya soal lapangan golf paling memorable yang pernah ia kunjungi, Dita langsung teringat pada Barnbougle Dunes di Tasmania, Australia.
Lapangan ini meninggalkan kesan mendalam, sekaligus sedikit penyesalan karena ia merasa belum mempersiapkan perjalanan dengan baik.
Waktu itu, Dita menginap di Hobart dan harus berkendara sekitar tiga jam untuk mencapai Barnbougle Dunes. Sebagai orang Indonesia, ia awalnya membayangkan perjalanan tiga jam bukan sesuatu yang terlalu berat.
Namun, perjalanan pulang-pergi dengan menyetir sendiri ternyata cukup menguras tenaga. Alhasil, ketika sampai di lapangan, kondisi tubuhnya sudah lebih dulu lelah.
Meski begitu, pengalaman bermain di sana tetap terasa spesial. Dita bahkan ingin kembali suatu hari nanti dengan persiapan yang jauh lebih matang.
Barnbougle Dunes dikenal dengan lanskap pesisirnya yang dramatis dan karakter lapangan links yang khas. Pengalaman bermain di sana jelas berbeda dari lapangan golf yang biasa ditemui di Indonesia.
Sementara untuk lapangan di Tanah Air, Dita mengaku belum menjelajahi semuanya. Ia baru bermain di sejumlah lapangan di Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Bandung.
Namun, ada satu hal yang paling ia cari ketika memilih lapangan: green yang cepat alias licin.
Beberapa lapangan yang menurutnya punya karakter green seperti itu antara lain Damai Indah Golf BSD, Damai Indah Golf PIK, Suvarna, Royale Jakarta, Sedayu Indo Golf, dan Pondok Indah Golf Course yang juga sering menjadi tempatnya bermain.
Buat Dita, green yang cepat memberikan tantangan tersendiri karena pemain harus bisa mengontrol jarak dan membaca arah bola dengan lebih presisi.
Nggak cukup cuma punya swing bagus. Begitu bola sampai di green, feeling dan sentuhan justru jadi penentu.
Fashion Golf? Yang Penting Nyaman, Bukan Harus Slay Terus
Kalau melihat Dita tampil di acara televisi, mungkin banyak yang membayangkan gaya golf-nya selalu fashionable dan fully prepared. Faktanya, ia mengaku bukan tipe orang yang terlalu memikirkan outfit.
Menurut Dita, kenyamanan tetap nomor satu. Ia bisa saja datang dengan pakaian yang simpel, bahkan baru lebih niat berdandan ketika tahu ada fotografer di lokasi.
Lucunya, saat mengikuti salah satu turnamen, ia sempat mendapat komentar karena tampil lebih rapi dari biasanya.
“Dita, kamu tumben dandan. Tumben cantik, tumben bagus pakai rok,” ceritanya sambil tertawa.
Namun, di balik urusan penampilan, Dita tetap mengingatkan pentingnya memilih pakaian yang memang sesuai untuk bermain golf.
Cuaca Indonesia yang panas, ditambah aktivitas berjalan dari hole ke hole, membuat pakaian berbahan nyaman dan mampu menyerap keringat jadi hal penting. Celana dan baju golf yang tepat bisa membantu tubuh tetap nyaman selama permainan.
Ia juga menyarankan penggunaan sunscreen untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Meski mengaku kurang suka sensasi lengket dari beberapa produk sunscreen, perlindungan kulit tetap perlu diperhatikan, terutama saat bermain di lapangan terbuka.
Jadi, golf outfit nggak harus selalu mahal atau kelihatan seperti mau fashion show. Cari yang nyaman, sesuai aturan lapangan, dan bikin kamu bebas bergerak.
Comfort first, style follows!

Dita dan Babak Baru Perjalanan Golf-nya
Dari dunia televisi sampai turnamen golf, Dita Fakhrana membuktikan bahwa seseorang bisa punya banyak sisi yang sama-sama menarik untuk dikembangkan.
Ia memulai golf sebagai hobi, belajar secara otodidak selama bertahun-tahun, dan kini mulai serius membenahi teknik lewat coaching serta mengikuti turnamen kompetitif.
Perjalanannya juga memperlihatkan bahwa golf bukan hanya tentang siapa yang paling jauh memukul bola atau siapa yang punya handicap paling rendah. Ada mental, kejujuran, kebugaran, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.
Buat Dita, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa ia bisa memukul bola jauh. Sekarang, ia ingin bermain lebih konsisten dan menguji kemampuannya di level kompetisi yang lebih serius.
Dan buat perempuan yang ingin mulai bermain golf, pesannya jelas: jangan minder, jangan takut mencoba, dan jangan merasa olahraga ini hanya milik laki-laki.
Karena pada akhirnya, lapangan golf terbuka buat siapa saja yang mau belajar dan berproses.
Dita sudah membuktikan bahwa di balik kesibukan di depan kamera, ada ambisi lain yang terus ia kejar di fairway. Siapa tahu, perjalanan berikutnya bukan cuma tentang memperbaiki scorecard, tetapi juga mencetak pencapaian baru di dunia golf amatir Indonesia.
Keep swinging, keep improving!
*Credit Pic @golfdalamkamera