Kalau sekarang melihat Dina Sean Wahyudi hampir setiap hari ada di lapangan golf, mungkin banyak yang mengira dirinya memang sudah jatuh cinta dengan olahraga ini sejak lama. Faktanya? Justru sebaliknya. Perjalanan Dina dengan golf dimulai dari rasa malas. “Bermain golf itu kelihatannya ribet. Harus bangun pagi, panas-panasan, dan effort-nya banyak banget,” cerita Dina sambil tertawa.
Buat Dina saat itu, golf bukan olahraga yang menarik. Ia membayangkan aktivitas seharian di bawah terik matahari hanya untuk memukul bola kecil. Jauh dari kata seru. Tapi ternyata, satu ajakan sederhana mengubah semuanya.
Gara-Gara Sekali Swing, Jadi Ketagihan
Awalnya Dina diajak mencoba driving range. Dengan percaya diri ia berpikir memukul bola golf pasti mudah.Ternyata kenyataannya berbeda. Sekali mencoba swing, Dina langsung dibuat kaget. “Ternyata susah banget. Aku pikir tinggal nyabet doang.”
Alih-alih menyerah, rasa penasaran justru muncul. Ia kembali berlatih untuk kedua kalinya. Kali ini pengalaman yang dirasakan berbeda. Dina tidak hanya melihat sisi teknis golf, tetapi juga suasana yang ditawarkan olahraga ini.
Saat mulai bermain di lapangan, ia menikmati udara segar pegunungan, hamparan fairway hijau, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah rutinitas sehari-hari. “Dari situ saya mulai berpikir, ternyata seru juga ya.” Sedikit demi sedikit rasa penasaran berubah menjadi hobi. Hobi berubah menjadi kebiasaan. Dan kini golf menjadi bagian besar dari kehidupannya.
Golf Ternyata Lebih Dari Sekadar Olahraga
Bagi Dina, golf bukan cuma soal mengejar par atau birdie. Yang membuatnya bertahan justru manfaat yang datang di luar permainan itu sendiri. Pertama tentu kesehatan. Bermain golf membuat tubuh tetap aktif bergerak sambil menikmati aktivitas outdoor.
Kedua adalah relasi. Menurut Dina, lapangan golf sering kali menjadi tempat bertemunya berbagai profesi, latar belakang, dan peluang baru.
“Di golf kita bisa ketemu teman baru, networking, ngobrol bisnis, sampai membangun koneksi yang mungkin nggak ketemu di tempat lain.”
Buat banyak orang, golf memang menjadi kombinasi unik antara olahraga, refreshing, dan networking dalam satu paket.
Dari Komunitas Sepeda ke Komunitas Golf Perempuan
Kecintaan Dina terhadap aktivitas outdoor ternyata tidak berhenti di golf. Saat masa pandemi, ketika banyak lapangan golf sempat tutup, ia bersama teman-temannya membentuk komunitas sepeda bernama Beautiful Biker Community (BBC). Awalnya mereka hanya berkeliling santai dengan sepeda Brompton bersama sesama perempuan.
Namun seiring waktu, banyak anggota yang mulai tertarik mencoba golf. Dari situlah lahir BBGC, komunitas yang kini dikenal sebagai wadah para perempuan pecinta golf. Yang menarik, pertumbuhan komunitas ini berlangsung sangat cepat.
Berawal dari sekitar 40 orang, berkembang menjadi 80 anggota, lalu 150 anggota, hingga kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 200 member. Mayoritas anggotanya adalah perempuan yang ingin belajar dan menikmati golf dalam suasana santai dan suportif. “Awalnya banyak yang cuma penasaran. Lama-lama mereka ikut latihan, terus akhirnya jatuh cinta sama golf.”
Meski fokus pada perempuan, berbagai kegiatan BBGC tetap terbuka untuk pasangan maupun keluarga ketika mengadakan event tertentu.
Ulang Tahun yang Nggak Biasa
Tidak heran ketika merayakan ulang tahunnya tahun ini, Dina memilih konsep yang sangat dekat dengan kehidupannya saat ini: golf party. Keputusan itu muncul secara natural. Sebagian besar teman yang kini berada di lingkaran pergaulannya adalah sesama golfer.
“Hari-hari ketemunya juga sama teman-teman golf.”
Buat Dina, merayakan momen spesial sambil bermain golf terasa jauh lebih personal dibanding pesta biasa. Selain bisa berkumpul dengan teman-teman, semua orang juga bisa menikmati aktivitas yang sama-sama mereka cintai.
Misi Besarnya: Bikin Lebih Banyak Perempuan Berani Coba Golf
Di balik kesibukannya bermain golf dan mengelola komunitas, Dina punya satu tujuan sederhana. Ia ingin semakin banyak perempuan berani mencoba olahraga yang selama ini sering dianggap eksklusif atau sulit dijangkau. Karena jika melihat kisahnya sendiri, Dina adalah bukti bahwa seseorang yang awalnya tidak tertarik sama sekali pada golf bisa berubah menjadi sosok yang aktif menginspirasi ratusan perempuan lainnya untuk ikut turun ke fairway. Dan semuanya berawal dari satu hal yang sangat sederhana:
“Rasa penasaran setelah satu kali mencoba swing.”