Kalau ngomongin turnamen golf paling ditunggu di Indonesia, Ciputra Golfpreneur Tournament jelas masuk daftar teratas. Tahun ini event bergengsi itu balik lagi pada 26-29 Agustus 2026 di Damai Indah Golf BSD, Tangerang Selatan, dengan total hadiah US$150.000 atau sekitar Rp2,7 miliar.
Ngak cuma soal prize money yang bikin turnamen ini spesial. Sebagai bagian dari kalender Asian Development Tour (ADT), Ciputra Golfpreneur selalu jadi tempat berkumpulnya para pegolf terbaik Asia yang datang buat berburu gelar sekaligus mengumpulkan poin menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
Buat pegolf Indonesia, ini lebih dari sekadar turnamen. Ini kesempatan buat membuktikan kalau mereka bisa bersaing di depan publik sendiri.
Masalahnya, ada satu rekor yang sampai sekarang masih belum berhasil dipatahkan.
Selama 10 edisi sebelumnya, belum ada satu pun pegolf Indonesia yang berhasil mengangkat trofi juara. Setiap tahun, gelar selalu dibawa pulang pemain asing. Makanya, edisi ke-11 ini terasa seperti misi yang belum selesai.
Bermain di lapangan yang sudah sangat familiar ditambah dukungan penonton tuan rumah bisa jadi modal penting buat akhirnya mengubah sejarah.
Founder Ciputra Golfpreneur Foundation sekaligus President Director PT Damai Indah Golf Tbk, Budiarsa Sastrawinata, mengatakan sejak awal turnamen ini memang punya misi yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari juara.
Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada pegolf profesional Indonesia untuk terus terbiasa menghadapi pemain-pemain internasional. Semakin sering bertanding di level tinggi, semakin besar peluang mereka berkembang dan nantinya bisa bersaing di panggung dunia.
Semangat itu juga menjadi warisan almarhum Ciputra yang hingga kini terus dijaga melalui Ciputra Golfpreneur Foundation. Selain turnamen profesional, yayasan ini juga konsisten mengembangkan talenta muda lewat Ciputra Golfpreneur International Junior World Championship yang sudah berlangsung lebih dari tiga dekade.
Kalau masih ragu seberapa besar pengaruh turnamen ini, lihat saja daftar alumninya.
Matt Killen, juara tahun lalu, kini sudah naik ke Asian Tour setelah tampil impresif di ADT. Sebelumnya ada Tom Kim yang menjuarai Ciputra Golfpreneur pada 2019 sebelum menjelma menjadi salah satu bintang golf dunia. Nama lain seperti Suteepat Prateeptienchai dan Miguel Carballo juga pernah menjadikan turnamen ini sebagai pijakan menuju karier yang lebih besar.
Artinya, Ciputra Golfpreneur bukan sekadar stopover. Banyak pemain yang menjadikan kemenangan di sini sebagai batu loncatan menuju level berikutnya.
Dari kubu Indonesia, perhatian bakal tertuju ke Naraajie Emerald Ramadhan Putra.
Pegolf asal Bandung ini bukan pemain baru di Damai Indah Golf BSD. Bahkan sebelum berstatus profesional pada 2022, Naraajie pernah membawa pulang gelar Best Amateur di turnamen yang sama.
Jam terbangnya di lapangan ini membuatnya sudah hafal hampir semua karakter green, arah break, sampai kondisi rumput. Meski begitu, ia mengakui tekanan sebagai pegolf profesional tentu jauh lebih besar dibanding saat masih bermain sebagai amatir. Menariknya, Naraajie memilih tidak memasang target muluk-muluk. Fokusnya sederhana, bermain lepas, menikmati setiap ronde, dan membiarkan hasil mengikuti permainannya.
Mental juga menjadi sorotan Kevin Caesario Akbar.
Menurutnya, kemampuan teknik pegolf Indonesia sebenarnya sudah sejajar dengan pemain internasional. Yang sering menjadi pembeda justru bagaimana mengelola tekanan ketika bertanding di turnamen sebesar ADT.
Kevin juga mengakui Ciputra Golfpreneur selalu menghadirkan persaingan yang luar biasa karena statusnya sebagai salah satu turnamen dengan hadiah terbesar di kalender Asian Development Tour. Semakin besar hadiahnya, semakin tinggi juga kualitas pemain yang datang. Dengan total hadiah sekitar Rp2,7 miliar dan poin Order of Merit yang sangat berharga, hampir semua pemain bakal tampil habis-habisan sejak pukulan pertama.
Namun, di balik sengitnya persaingan, ada satu keuntungan yang hanya dimiliki para pegolf Indonesia.
Mereka bermain di rumah sendiri.
Lapangan sudah sangat dikenal. Kondisi cuaca bukan hal baru. Ditambah dukungan penonton yang pastinya bakal memenuhi Damai Indah Golf BSD, semuanya bisa menjadi energi tambahan yang mungkin saja membuat perbedaan.
Pertanyaannya sekarang tinggal satu.
Apakah tahun 2026 akhirnya menjadi momen lahirnya juara Indonesia di Ciputra Golfpreneur Tournament?
Jawabannya baru akan kita tahu pada akhir Agustus nanti. Tapi satu hal yang pasti, kalau trofi itu akhirnya tetap tinggal di Indonesia, kemenangan tersebut bukan cuma soal gelar. Itu akan menjadi bukti bahwa golf Indonesia benar-benar siap bersaing di level Asia.
Versi ini memakai gaya feature ala media lifestyle anak muda: opening yang kuat, paragraf pendek, ritme cepat, hook di setiap transisi, dan ending yang menggugah sehingga lebih nyaman dibaca di e-magazine maupun website.