Padel Itu Seru, Tapi Jangan Sampai Cedera Bikin Kapok

Padel lagi ada di mana-mana. Lapangan makin gampang ditemuin, booking makin ramai, dan yang awalnya cuma “coba-coba sekali” tahu-tahu sudah punya jadwal main tiga kali seminggu. Tapi ada satu hal yang kadang suka dilupain: padel tetap olahraga. Artinya, badan juga bisa protes kalau dipaksa kerja keras tanpa persiapan.

Gerakannya memang terlihat santai, tapi di lapangan kita bisa sprint pendek, berhenti mendadak, melakukan gerakan memutar, melompat, sampai melakukan smash berulang kali. Nah, dari sinilah beberapa cedera cukup sering muncul.

Bukan berarti harus takut main padel. Justru dengan tahu potensi cederanya, kita bisa lebih pintar menjaga badan.

1. Ankle Sprain alias Keseleo Pergelangan Kaki

Ini salah satu cedera yang cukup familiar di olahraga dengan banyak gerakan cepat.

Saat mengejar bola, melakukan perubahan arah mendadak, atau salah mendarat setelah bergerak, pergelangan kaki bisa terkilir. Biasanya ditandai dengan nyeri, bengkak, atau rasa tidak nyaman saat menapak.

Apalagi kalau lagi seru-serunya rally dan fokus cuma satu: “Bola itu harus balik!”

Padahal kaki sudah bilang, “Bro, santai dulu.”

2. Tennis Elbow

Namanya memang tennis elbow, tapi bukan berarti cuma pemain tenis yang bisa mengalaminya. Gerakan memukul raket secara berulang juga bisa memberikan beban berlebih pada otot dan tendon di sekitar siku.

Pada padel, kondisi ini bisa muncul terutama kalau frekuensi bermain meningkat drastis atau teknik pukulan belum cukup baik.

Biasanya terasa sebagai nyeri di area siku, terutama saat menggenggam atau melakukan gerakan menggunakan pergelangan tangan.

Jadi kalau baru mulai padel, jangan langsung merasa harus smash setiap bola. Kadang placement lebih berguna daripada power.

3. Cedera Bahu

Smash, overhead shot, dan berbagai pukulan di atas kepala memang jadi bagian serunya padel. Masalahnya, gerakan yang dilakukan berulang-ulang bisa membuat bahu bekerja cukup keras.

Cedera atau iritasi pada otot dan tendon di sekitar bahu dapat menyebabkan rasa sakit ketika mengangkat tangan atau melakukan pukulan overhead.

Kalau bahu mulai terasa ngilu setiap kali melakukan smash, jangan dianggap sebagai tanda “smash gue makin keras”.

Bisa jadi itu justru tanda tubuh minta istirahat.

4. Nyeri Lutut

Lutut juga ikut bekerja keras karena padel penuh dengan gerakan stop-and-go: lari pendek, berhenti, bergerak ke samping, kemudian sprint lagi.

Beban pada lutut bisa semakin besar kalau pemain belum terbiasa dengan intensitas permainan atau langsung bermain terlalu lama.

Nyeri lutut yang muncul berulang kali sebaiknya jangan cuma ditutup dengan mindset “nanti juga ilang”.

Kalau terus terjadi, lebih baik cari tahu penyebabnya.

5. Cedera Hamstring

Hamstring adalah kelompok otot di bagian belakang paha. Otot ini bisa mengalami strain ketika melakukan gerakan eksplosif, terutama saat sprint atau melakukan perubahan arah secara tiba-tiba.

Biasanya rasa sakit muncul di bagian belakang paha dan bisa terasa saat berjalan, berlari, atau melakukan gerakan tertentu.

Ini alasan kenapa pemanasan bukan sekadar formalitas sebelum main.

6. Cedera Betis

Betis juga bisa kena imbas dari gerakan cepat dan perubahan arah.

Ketika otot belum siap tetapi langsung dipaksa sprint, melakukan lompatan, atau mengejar bola yang nyaris mustahil dikejar, risiko strain bisa meningkat.

Dan kita semua tahu tipe bola seperti itu.

Bola yang sebenarnya sudah keluar, tapi tetap dikejar karena gengsi.

7. Nyeri Punggung Bawah

Padel bukan cuma soal tangan. Saat melakukan pukulan, tubuh ikut berputar dan menghasilkan tenaga dari kaki, pinggul, hingga bagian tengah tubuh.

Kalau teknik kurang tepat, otot inti kurang kuat, atau tubuh sudah kelelahan, punggung bawah bisa ikut menerima beban berlebih.

Kalau setelah bermain punggung terasa pegal ringan, mungkin tubuh memang sedang beradaptasi. Tapi kalau nyerinya tajam, menetap, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan dipaksakan.

8. Cedera Pergelangan Tangan

Pegangan raket, pukulan berulang, dan gerakan pergelangan tangan yang terus-menerus juga bisa menimbulkan masalah.

Grip yang kurang tepat, teknik pukulan yang kurang efisien, atau terlalu sering bermain tanpa recovery dapat meningkatkan risiko nyeri pada area pergelangan tangan.

Jadi bukan cuma raket yang harus punya grip bagus. Tangan kita juga perlu diperlakukan dengan benar.

Biar Main Padel Tetap Seru, Bukan Jadi Agenda ke Fisioterapis

Cedera bukan berarti padel adalah olahraga berbahaya. Banyak cedera olahraga justru bisa diminimalkan dengan kebiasaan sederhana.

Sebelum main, luangkan waktu untuk pemanasan dinamis. Jangan langsung masuk lapangan dan smash seolah-olah sedang final turnamen.

Gunakan sepatu yang memang cocok untuk olahraga lapangan dan punya grip yang baik. Sepatu lari belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk gerakan lateral yang banyak terjadi di padel.

Selain itu, tingkatkan intensitas bermain secara bertahap. Kalau biasanya main seminggu sekali, jangan tiba-tiba booking empat sesi dalam seminggu hanya karena sedang keracunan padel.

Teknik juga penting. Belajar dari coach bukan cuma buat bikin pukulan terlihat keren, tapi juga membantu tubuh bergerak lebih efisien.

Dan yang paling underrated: recovery.

Tidur cukup, hidrasi, makan dengan baik, dan memberikan waktu istirahat pada tubuh sama pentingnya dengan latihan.

Dengarkan Sinyal dari Badan

Ada beda antara “capek habis olahraga” dan “badan sedang kasih warning”.

Kalau muncul nyeri yang berat, bengkak, sulit menapak, kelemahan, mati rasa, atau rasa sakit yang tidak membaik, sebaiknya hentikan aktivitas dan pertimbangkan untuk diperiksa oleh tenaga medis atau fisioterapis.

Karena tujuan main padel sebenarnya simpel: sehat, fun, ketemu teman, keringetan, lalu pulang dengan mood lebih baik. Jangan sampai gara-gara terlalu mengejar satu bola, akhirnya malah harus booking dokter. Padel boleh gas. Badan jangan dipaksa.

error: Content is protected !!